Seperti
mimpi rasanya, aku melayang dan terbang melintasi awan yang biasanya hanya bisa
kulihat dan kupandangi dari bawah. Menyusuri langit biru yang membentang luas
dan indah yang membuatku begitu takjub. Meski sesering apapun ku pandangi, aku
tetap saja tak pernah berhenti untuk berucap syukur dan terus merasa takjub.
“Tuhan...begitu
indahnya dan sempurnahnya ciptaan-Mu..,” batinku.
Aku terbang menuju negeri matahari. Menuju negeri
dimana dapat kunikmati hangatnya sinar mentari di musim panas, indahnya kelopak
bunga yang berjatuhan di musim gugur, indahnya hujan salju di musim dingin dan
betapa indahnya bunga sakura di musim semi. Aku pergi ke negeri empat musim.
Negeri dimana akan ku dapati orang-orang berinteltualitas tinggi. Dan negeri
dimana semua orang-orangnya sangat menghargai waktu dan enggan membuangnya
dengan percuma.
Aku
menarik napas lega. “Tokyo... aku datang....,”
Aku menyetop taksi yang akan
membawaku ke tempat tujuanku. Sebuah flat sederhana yang terletak di kawasan
Universitas Tokyo. Aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ku di
bidang kedokteran. Jangan salah sangka, ini bukan berarti aku berasal dari
keluarga yang kaya raya karena mengambil jurusan itu. Sejak awal menjadi dokter
memang impianku. Meskipun aku berasal dari keluarga yang pas-pasan tapi itu tak
pernah menyurutkan impianku yang sangat tinggi itu untuk kalangan sepertiku.
Karenanya aku belajar lebih banyak, lebih banyak dari teman-temanku. Aku
berjuang lebih keras, lebih keras dari teman-temanku. Itulah yang membawaku
bisa mendapat beasiswa untuk kuliah gratis di sebuah universitas ternama di
Yogyakarta. Dan kini, berkat kebesaran Tuhan, aku pun mendapat kesempatan untuk
meneruskan S2 di negeri matahari terbit ini yang tentunya dengan gratis.
Boleh di bilang, ini berkat para
dosen-dosenku. Mereka mengajukan kualifikasiku untuk mengikuti pendaftaran
beasiswa itu. Tentunya, tanpa kepercayaan dari dosen-dosenku itu, sekarang aku
masih tidak bisa mempercayai kemampuanku sendiri. Aku bukanlah orang yang
jenius ataupun cerdas. Kalau aku orang yang cerdas, barangkali aku tak perlu
belajar untuk dapat mengerti semua pelajaran dan bisa mendapatkan nilai-nilai
yang baik. Itu semua ku dapatkan karena belajar dan berusaha, dan tak lupa juga
dengan kekuatan do’a hingga dapat mengantarku berada di tempat ini sekarang.
Taksi yang ku tumpangi berhenti di
sebuah flat sederhana di kawasan Universitas Tokyo itu. Aku keluarkan beberapa
koperku dari bagasi dengan di bantu pula oleh supir taksi itu. Aku membungkuk
untuk menghormat seperti kebiasaan orang-orang Jepang. Aku pun tak lupa untuk
mengucapkan terima kasih untuk supir taksi yang bersedia membantuku
mengeluarkan koper-koperku dari bagasi itu.
“Arigato
gozaimas[1]...,”
ucapku.
Bahasa Jepangku memang masih belum fasih dan mungkin
juga terdengar kikuk. Maklum aku hanya belajar otodidak dari buku-buku yang ku
pinjam di kampusku dulu. Dari dulu, aku memang sudah tertarik dengan negara
Jepang, karena itu mendapat kesempatan untuk bisa mencoba hidup di negara itu
membuat diriku begitu bahagia. Aku tak pernah berhenti untuk berucap syukur
atas semua rahmat Tuhan yang begitu melimpah ruah padaku.
Supir taksi itu menghormat pula padaku dan tersenyum kecil.
Aku tahu jika di bandingkan dengan kebanyakan orang di sana mungkin
penampilanku sedikit aneh bagi sebagian orang. Aku mengenakan jilbab dan baju
gamis yang panjangnya sampai-sampai dapat di gunakan untuk menyapu lantai.
Tapi, aku tak pernah mempedulikan pendapat orang jika memang orang-orang itu
memandangku dengan aneh, karena sebelumnya aku sudah bisa memperkirakan hal
itu. Namun seperti dugaanku, orang Jepang memang benar-benar cuek dan tak
pernah mempedulikan hal itu, mereka tetap menghormat seperti biasa meskipun itu
dengan orang asing.
Aku membawa masuk semua koper-koper
itu. Ku dapati seorang temanku yang sama-sama berasal dari Indonesia itu
berlari kecil ke arahku. Dia membantuku membawa koper-koper itu. Kami memang
tidak begitu akrab karena meskipun dari kampus yang sama kami cuma bertemu
beberapa kali . Dia mengambil jurusan bisnis di sini. Sama sepertiku, dia juga
mendapat beasiswa meskipun sebenarnya dia anak orang kaya.
“Aku
senang kau sudah datang...,” ucapnya sembari mencium ke dua pipi kanan kiriku.
“Iya...,”
ucapku dengan tersenyum kecil ke arahnya.
“Mari
ku bantu,”
“Iya,
terima kasih,”
Cantrika Liena Rantika, itu adalah
salah satu teman sekampusku yang memang berbeda fakultas. Tapi, dia bukan orang
Yogjakarta asli, melainkan orang Jakarta. Berbeda sepertiku yang mungkin
menurut sebagian orang cupu, penampilan Liena, begitu dia di panggilnya, sangat
modis. Meskipun kami sama-sama muslim, gadis pemilik kulit putih dan mata sipit
itu, tidak mengenakan kerudung sepertiku. Tapi, ku akui penampilan dia masih
lebih wajar jika di bandingkan kebanyakan orang Jakarta yang tampil begitu
terbuka.
Dibimbingnya aku ke rumah penjaga
flat yang juga menempati salah satu flat itu. Di sana aku melihat beberapa
orang berkumpul dan tersenyum ke arahku.
“Yamato
san, Mayumi san, kochira wa Indonesia no Najwa san desu[2],”
ucap Liena memperkenalkan aku pada Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi.
“Hajimemashite.
Najwa desu. Dozo yoroshiku[3],”
ucapku mempertegas mereka dengan memperkenalkan namaku kembali dengan
membungkukkan badan.
Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi pun melakukan hal yang
sama. Mereka memberi kunci pintu flatku dengan tersenyum ramah. Aku pun
melakukan perkenalan yang sama dengan kedua anak Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi.
Tuan Yamato dan Nyonya Mayumi mempunyai seorang anak perempuan yang masih
berumur sekitar sepuluh tahun dan mempunyai satu anak laki-laki yang seumuran
denganku dan Liena. Yang ku dengar dari Liena, anak laki-laki Tuan Yamato dan
Nyonya Mayumi itu juga kuliah di Universitas Tokyo sama seperti kami, tapi
berbeda fakultas. Dia mengambil jurusan Teknik Mesin kata Liena.
Liena mengantarku sampai ke flatku di
lantai dua dengan masih membantuku membawa koper-koperku. Flat Liena juga
berada di lantai yang sama denganku, hanya berjarak dua kamar saja dari
kamarku. Liena langsung meminta izin pergi ketika aku sudah masuk ke dalam
kamarku. Dan aku mengizinkannya serta tak lupa untuk berterimakasih atas
bantuannya.
“Terima
kasih ya Lien..,”ucapku.
“Iya,
Najwa jangan sungkan..,” ucapnya dengan senyum kecilnya yang tampak begitu
manis.
Aku memasuki kamar flatku dan
langsung menata baju-bajuku dalam almari. Flat itu cukup besar jika di
bandingkan dengan kamar tidurku di Yogjakarta. Terdapat sebuah tv dan sofa
kecil dengan karpet di depannya yang menyatu dengan ruang tamu. Terdapat sebuah
kamar tidur kecil, almari dan meja belajar diruang tengah. Dan terdapat sebuah
dapur kecil dan kamar mandi kecil di bagian paling belakang. Aku berpikir
berapa sebenarnya harga sewa flat ini sebulan, untuk ukuran anak kos di
tempatku ini sudah cukup mewah. Tapi, aku tak perlu menghabiskan waktuku hanya
untuk memikirkan hal itu. Karena semua itu sudah di urus dan aku hanya tinggal
melakukan kewajibanku dengan baik sebagai seorang pelajar.
Usai bersih-bersih dan merapikan semuanya aku langsung
mandi, mengganti bajuku dengan baju biasa dan mengganti kerudungku dengan
jilbab yang langsung pakai serta seperti biasa menjalankan kewajibanku sebagai
seorang muslim untuk sholat karena jam sudah memasuki waktu sholat isya. Aku
beristirahat dan membaca beberapa buku hingga kantuk menghampiriku.

0 komentar:
Posting Komentar