Aku
tengah duduk di gazebo bersama dengan Om Delon. Biasa kami sering menghabiskan
waktu berdua seusai makan malam. Dengan ditemani kopi yang disediakan Bi Asih
ART di rumah kami, aku dan Om Delon akan menghabiskan waktu yang cukup lama
untuk berbincang-bincang.
"Ada
alasan kenapa Om meminta aku melakukan audit ke Surabaya?" Tanyaku
kemudian.
"Kamu
menyadarinya?" Om Delon balik bertanya.
Aku
pun menganggukkan kepalaku. "Aku cukup tahu Om, sama seperti Om tahu semua
tentangku...," Ujarku kemudian.
Om
Delon pun tersenyum kecil mendengar perkataanku. Kami memang cukup dekat, dan
banyak hari kulalui bersama Om Ku ini sewaktu aku masih kecil. Jadi, aku cukup
bisa menebak apa yang tengah dipikirkannya.
"Siapa
tahu kamu bisa bertemu dia lagi...," Ujar Om Delon.
Aku
tahu siapa "dia" yang dimaksud Om Delon dalam pembicaraan kami. Tentu
"dia" disini adalah seseorang yang pernah berada di masa laluku. Aku
menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya berucap.
"Mustahil
Om, sudah lima tahun berlalu. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan keluarga
kecilnya...," Ucapku dengan nada pasrah.
"Tidak
ada yang mustahil di dunia ini Van, kamu tidak akan pernah bisa merasa lega
sebelum memastikannya sendiri bukan? Kamu selamanya tidak akan pernah merasa
lega karena kamu hidup dengan praduga-praduga kamu yang belum tentu bahwa itu
memang kebenarannya...," Jelas Om Devan.
"Tapi,
Om.. Dia tidak mungkin masih sendiri sekarang. Dia juga tidak mungkin masih
menunggu Devan bukan? Devan bukannya tidak tahu bahwa dulu dia menyimpan
perasaan untuk Devan, tapi mungkin kini hatinya sudah berbalik. Bukankah hati
mudah berbolak-balik Om...," Ujarku.
"Kamu
benar, hati manusia memang mudah berbolak balik. Tapi, kamu juga tidak
sepenuhnya benar, buktinya seseorang di samping kamu ini. Kamu juga tahu bukan,
kalau Tante Delia udah ninggalin Om dalam cukup lama, tapi sampai sekarang pun
perasaan Om masih tetap sama untuk tante mu itu...," Jelas Om Delon.
Aku
pun menganggukkan kepalaku seraya mengiyakan bahwa memang benar adanya bahwa
sampai detik ini pun Om Delon masih mencintai Tante Delia. Buktinya ia bahkan
belum menikah lagi sampai sekarang.
"Bukankah
kamu sendiri yang bertanya kepada Om, kenapa kamu masih merasa ada yang kurang
bahkan setelah kamu bisa mencapai semua impian kamu?" Tanya Om Delon yang
lebih pada meminta penegasan kepadaku atas pernyataanya. Aku mengangguk
mengiyakan.
"Kamu
merasa seperti itu barangkali karena ada yang belum selesai antara kamu dengan
dia Van. Mungkin kisah kalian sudah berakhir tapi kamu perlu untuk
memastikannya sendiri apa benar seperti itu kenyataannya. Tentu bukan karena
kamu memaruh harap lebih, tapi lebih kepada agar kamu bisa merasa lega. Jika ia
memang sudah bahagia dengan pilihan hatinya saat ini maka kamu akan bisa lega
dan bisa ikhlas melepaskannya. Dan jika memang kenyataannya ia masih menjaga
dirinya untukmu, kamu bisa menentukan langkah apa yang harus kamu ambil
kedepannya...," Jelas Om Devan.
Aku
lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalaku. Semua pernyataannya benar adanya
dan aku tak bisa menyangkal bahwa pernyataannya itu sama seperti
pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalaku.
"Apa
Devan bisa melewati ini Om...?" Tanyaku pesimis.
"Bukankah
kamu sudah melewati semua itu selama lima tahun lamanya. Harusnya, bagaimanapun
hasil yang akan kamu temui nanti, kamu sudah bisa menerima dengan penerimaan
yang baik..."
"Oke
Om, Devan akan berusaha mencari dia juga disana. Apapun yang terjadi nanti,
meski pada akhirnya kami memang tidak bisa bersama, Devan tetap bisa menjaga
pertemanan diantara kami kan Om...,"
"Ya,
tentu. Jangan putus silaturahmi hanya karena masalah yang terjadi di masa lalu.
Akan lebih baik kalau hubungan kalian membaik meski tidak bisa kembali seperti
dulu. Agar kalian berdua bisa lega dan ikhlas hingga langkah kalian kedepannya
tidak akan berat dan membebani...,"
Aku
menganggukkan kepala. "Makasih kesempatannya Om. Tapi, Om sembunyikan
semua ibi dari Mama kan? Mama belum tahu soal "dia" kan...?"
Tanyaku kemudian.
"Tentu
saja belom, bisa heboh mamamu kalau tahu. Dia pasti akan nyuruh kamu pergi
malam ini juga buat nyari "dia"," Om Delon sembari tersenyum
kecil.
"Iya,
om benar. Devan bukannya bermaksud menyembunyikan semua dari Mama. Tapi, karena
semuanya belum pasti makanya Devan tidak memberi tahu. Takut Mama terlalu
berharap dan kecewa berat nantinya ketika harapannya tak terpenuhi...,"
Jelasku.
Om
Delon menganggukkan kepala. "Om ngerti....," Ujarnya kemudian.
🍁🍁🍁

0 komentar:
Posting Komentar