Rabu, 19 Oktober 2022

Man Talk

 

Aku tengah duduk di gazebo bersama dengan Om Delon. Biasa kami sering menghabiskan waktu berdua seusai makan malam. Dengan ditemani kopi yang disediakan Bi Asih ART di rumah kami, aku dan Om Delon akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbincang-bincang.

"Ada alasan kenapa Om meminta aku melakukan audit ke Surabaya?" Tanyaku kemudian.

"Kamu menyadarinya?" Om Delon balik bertanya.

Aku pun menganggukkan kepalaku. "Aku cukup tahu Om, sama seperti Om tahu semua tentangku...," Ujarku kemudian.

Om Delon pun tersenyum kecil mendengar perkataanku. Kami memang cukup dekat, dan banyak hari kulalui bersama Om Ku ini sewaktu aku masih kecil. Jadi, aku cukup bisa menebak apa yang tengah dipikirkannya.

"Siapa tahu kamu bisa bertemu dia lagi...," Ujar Om Delon.

Aku tahu siapa "dia" yang dimaksud Om Delon dalam pembicaraan kami. Tentu "dia" disini adalah seseorang yang pernah berada di masa laluku. Aku menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya berucap.

"Mustahil Om, sudah lima tahun berlalu. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya...," Ucapku dengan nada pasrah.

"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Van, kamu tidak akan pernah bisa merasa lega sebelum memastikannya sendiri bukan? Kamu selamanya tidak akan pernah merasa lega karena kamu hidup dengan praduga-praduga kamu yang belum tentu bahwa itu memang kebenarannya...," Jelas Om Devan.

"Tapi, Om.. Dia tidak mungkin masih sendiri sekarang. Dia juga tidak mungkin masih menunggu Devan bukan? Devan bukannya tidak tahu bahwa dulu dia menyimpan perasaan untuk Devan, tapi mungkin kini hatinya sudah berbalik. Bukankah hati mudah berbolak-balik Om...," Ujarku.

"Kamu benar, hati manusia memang mudah berbolak balik. Tapi, kamu juga tidak sepenuhnya benar, buktinya seseorang di samping kamu ini. Kamu juga tahu bukan, kalau Tante Delia udah ninggalin Om dalam cukup lama, tapi sampai sekarang pun perasaan Om masih tetap sama untuk tante mu itu...," Jelas Om Delon.

Aku pun menganggukkan kepalaku seraya mengiyakan bahwa memang benar adanya bahwa sampai detik ini pun Om Delon masih mencintai Tante Delia. Buktinya ia bahkan belum menikah lagi sampai sekarang.

"Bukankah kamu sendiri yang bertanya kepada Om, kenapa kamu masih merasa ada yang kurang bahkan setelah kamu bisa mencapai semua impian kamu?" Tanya Om Delon yang lebih pada meminta penegasan kepadaku atas pernyataanya. Aku mengangguk mengiyakan.

"Kamu merasa seperti itu barangkali karena ada yang belum selesai antara kamu dengan dia Van. Mungkin kisah kalian sudah berakhir tapi kamu perlu untuk memastikannya sendiri apa benar seperti itu kenyataannya. Tentu bukan karena kamu memaruh harap lebih, tapi lebih kepada agar kamu bisa merasa lega. Jika ia memang sudah bahagia dengan pilihan hatinya saat ini maka kamu akan bisa lega dan bisa ikhlas melepaskannya. Dan jika memang kenyataannya ia masih menjaga dirinya untukmu, kamu bisa menentukan langkah apa yang harus kamu ambil kedepannya...," Jelas Om Devan.

Aku lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalaku. Semua pernyataannya benar adanya dan aku tak bisa menyangkal bahwa pernyataannya itu sama seperti pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalaku.

"Apa Devan bisa melewati ini Om...?" Tanyaku pesimis.

"Bukankah kamu sudah melewati semua itu selama lima tahun lamanya. Harusnya, bagaimanapun hasil yang akan kamu temui nanti, kamu sudah bisa menerima dengan penerimaan yang baik..."

"Oke Om, Devan akan berusaha mencari dia juga disana. Apapun yang terjadi nanti, meski pada akhirnya kami memang tidak bisa bersama, Devan tetap bisa menjaga pertemanan diantara kami kan Om...,"

"Ya, tentu. Jangan putus silaturahmi hanya karena masalah yang terjadi di masa lalu. Akan lebih baik kalau hubungan kalian membaik meski tidak bisa kembali seperti dulu. Agar kalian berdua bisa lega dan ikhlas hingga langkah kalian kedepannya tidak akan berat dan membebani...,"

Aku menganggukkan kepala. "Makasih kesempatannya Om. Tapi, Om sembunyikan semua ibi dari Mama kan? Mama belum tahu soal "dia" kan...?" Tanyaku kemudian.

"Tentu saja belom, bisa heboh mamamu kalau tahu. Dia pasti akan nyuruh kamu pergi malam ini juga buat nyari "dia"," Om Delon sembari tersenyum kecil.

"Iya, om benar. Devan bukannya bermaksud menyembunyikan semua dari Mama. Tapi, karena semuanya belum pasti makanya Devan tidak memberi tahu. Takut Mama terlalu berharap dan kecewa berat nantinya ketika harapannya tak terpenuhi...," Jelasku.

Om Delon menganggukkan kepala. "Om ngerti....," Ujarnya kemudian.

🍁🍁🍁

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar