Papa tetap diam dan enggan
membantu Mama. Dia hanya berdehem dan terlihat kikuk sebelum menyerahkan semua
pada Mama.
"Ekhem...Mama aja yang
bilang. Kan Mama yang punya rencana itu...," Ujar Papa.
"Eh, tapi kan papa
setuju-setuju aja dengan usul Mama...," Ucap Mama.
"Ya, kalau papa nggak
setuju nanti mama ngambek, trus papa disuruh tidur di luar ..," gerutu
Papa.
"Dasar suami takut
istri..," celetuk Om Delon. Papa memberi isyarat pelotota mata pada Om
Delon setelah mendengar celetukan itu Sementara aku dan Davin hanya terkekeh
sembari memperhatikan interaksi kedua orang tua kami.
"Sebenarnya Mama mau
bilang apa?" Tanyaku kemudian, mencoba memecah perseteruan diantara
mereka.
"Eh, gini Devan, Mama
berencana mengenalkan kamu dengan Nadya, anak Tante Ratih dan Om Rafael teman
papamu," ucap Mama kemudian, memberanikan diri karena beliau sesungguhnya
tahu kalau aku paling enggan untuk membicarakan hal yang seperti ini.
"Terus....,"
Pancingku kemudian.
"Terus ya gitu, siapa
tahu Devan mau ketemuan sama Nadya. Eh, tapi kalau Devan nggak mau nggak
apa-apa kok. Mama akan jelasin sama tante Ratih. Toh, mama juga sering lakuin
itu sama teman-teman Mama yang lain yang ingin jodohin anaknya sama kamu
kan..," ucap Mama.
Aku menghela napas sebelum
memberi penjelasan pada Mama.
"Ma, bukannya Devan
nggak tahu apa yang Mama tahu. Tapi, Mama tahu kan kalau Devan belum siap.
Kalau Devan sudah siap, Devan janji nggak perlu Mama yang cariin, Devan bakal
bawa sendiri calon menantu Mama...," Ujarku.
"Iya, tapi kapan...? Ini
sudah ke tujuh kalinya Mama jodohin kamu. Tapi, ketemu aja kamu nggak
mau...," Ucap Mama dengan raut wajah cemberut.
"Devan nggak mau ngasih
harapan sama mereka Ma, makanya Devan nggak mau nemuin mereka...,"
"Tapi kan nggak apa-apa
ketemu doang Van, kalau kamu nggak cocok ya sudah..,"
"Ma...," Ucapku
lirih dan kalau sudah seperti itu Mama tahu kalau aku tak ingin di bantah.
"Iya, iya Mama tahu,
Mama nggak akan maksa kamu. Huft...padahal Mama kan cuman mau cepet nimang cucu
kayak temen-temen Mama yang lain.
"Kalau Mama pingin cepet
nimang cucu suruh aja noh si Davin buat nikahin Clarissa...," Cetusku
meminta Mama buat nikahin Davino lebih dulu dengan Clarissa anak tetangga
sebelah.
"Ih...enak aja aku
dibawa-bawa mana sama Clarissa lagi, ogah cewek petakilan gitu...," Ujar
Davino.
"Hush...nggak boleh gitu
Davin, mama nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu...," Ujar Mama.
"Tahu, jangan terlalu
benci Vin, jatuh cinta tau rasa loe...," Ujarku yang kemudian di ikuti
gelak tawa papa sama Om Delon. Sementara Davino yamg mendengar ledekanku hanya
bisa merengut kesal.
"Huss...sudah..sudah,"
lerai Mama akhirnya.
"Mama suruh Om Delon
nikah lagi aja noh, biar Mama bisa segera nimang cucu...," Celetuk Davino
kemudian.
Semua pun hening kemudian.
Bukannya tidak pernah hal seperti ini terjadi tapi tiap membahas tentang
pernikahan dengan Om Delon pasti akan seperti ini.
Om Delon adalah seorang duda
tanpa anak. Istrinya meninggal saat usia pernikahan mereka sudah menginjak 3
tahun. Tante Delia, almarhum istri Om Devan meninggal karena kanker. Dan lima
tahun setelah meninggalnya Tante Delia, Om Delon tidak juga mencari
penggantinya meskipun Mama dan Papa seringkali memberikan usulan tersebut.
Mama pun kemudian mencairkan
suasana agar tidak menjadi hening. Devino yang tampak merasa bersalah pada Om
Delon pun memberi isyarat tatapan mata sebagai tanda permintaan ma'af atas
kesalahan dalam celetukannya tadi. Om Delon pun menggelengkan kepala sebagai
tanda tidak apa-apa. Ia pun tersenyum kemudian diikuti kami semua.
🍁🍁🍁

0 komentar:
Posting Komentar