Rabu, 19 Oktober 2022

Prolog

 

Jakarta 🍂

Aku sudah mendaratkan kakiku kembali ke tanah air. Usai melanjutkan studiku di salah satu perguruan tinggi di negeri kangguru, aku kembali ke tanah air. Pasalnya, aku sudah di hire oleh salah satu perusahaan yang cukup ternama di kota tempat tinggalku, Jakarta.

Perusahaan ini sudah lama menghireku. Bahkan ketika aku masih berstatus mahasiswa yang tengah menempuh gelar masterku. Dan akhirnya, aku menyanggupinya ketika aku sudah menyelesaikan studiku, aku akan bekerja disana.

Kalian mungkin akan penasaran kenapa begitu mudahnya aku mendapatkan pekerjaan, bahkan ketika aku masih belum menyelesaikan studiku? Tentu saja itu karena perusahaan yang menghireku adalah perusahaan pamanku sendiri. Beliau bersikeras hendak menjadikanku karyawannya atau lebih tepatnya mungkin penerusnya, karena beliau tidak memiliki anak untuk meneruskan usahanya itu.

Sementara Papaku sendiri hanya bisa berpasrah dengan keinginan keras pamanku itu. Beliau menyerahkan semua keputusan di tanganku. Apakah aku akan memilih untuk meneruskan usaha pamanku? Ataukah usaha Papaku yang bergerak di bidang yang berbeda dengan usaha pamanku itu.

Dan aku menetapkan pilihanku kepada usaha pamanku, yakni usaha jasa akuntan publik karena bagiku inilah yang lebih sesuai dengan diriku. Sementara usaha Papaku yang bergerak di bidang property kedepannya akan di teruskan oleh adikku yang saat ini juga tengah menempuh pendidikan sarjananya di salah satu universitas di kota ku ini.

Tampak adikku melambaikan tangan dari kejauhan, seolah mengisyarati keberadaannya. Aku pun segera menghampirinya, ternyata ialah yang menjemputku di bandara. Awalnya aku ingin naik taksi saja ke rumah, tapi mama bersikeras untuk meminta adikku saja yang menjemputku.

"Udah lama nunggu?" tanya ku.

"Lumayan Bang, si mama nih ngomel melulu kalau gue nggak juga berangkat jemput abang," ucapnya. Dan akupun hanya terkekeh kecil mendengar gerutuannya itu.

Karena bukan hal yang mengeherankan lagi kalau perkataan Mama sudah seperti titah sang ratu yang nggak bisa di ganggu gugat. Maklum, karena di rumah memang mamalah satu-satunya wanita yang harus dengan sabar mengurusi ketiga ksatrianya yakni aku, papa dan Devin adikku.

Eh, aku lupa mengenalkan diri. Perkenalkan namaku Devano Ezra Anggara, Putra pasangan Daniel Anggara dan Delina Mahesty. Aku memiliki satu adik laki-laki yang namanya tak beda jauh dengan namaku. Devino Erza Anggara.

Singkat cerita, kami pun akhirnya keluar dari bandara dan bergegas pulang ke rumah. Karena untuk ke tujuh kalinya sang mama tak henti-hentinya menelpon Devin, yang tentu saja membuat adikku itu menggerutu tak henti-hentinya sepanjang perjalanan.

Sementara aku, hanya bisa terkekeh melihatnya. Aku pun menyusuri pemandangan di kanan kiri jalan untuk menghilangkan rasa bosan selama perjalanan kami, karena bandara dengan rumah kami cukup memakan waktu.

Sesampainya di rumah mama langsung memelukku dan memberiku ciuman bertubi-tubi di pipi layaknya balita. Adikku tentu saja meledek perlakuan mama kepadaku itu. Ia dan mama memang tidak pernah akur, selalu saja berdebat, semua itu tentu saja karena sifat jail adikku yang satu itu, yang tak lernah henti-hentinya mengganggu mama.

"Welcome home son," ujar Papaku sembari memberi pelukan singkat dan menepuk bahuku. Aku dapat melihat kebanggaan dan juga kebahagiaan di matanya atas sekembaliku dari penyelesaian studyku.

Tak jauh dari papa, orang yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan papaku itu pun melakukan hal yang sama. Ia bahkan memelukku berkali-kali.

"Selamat datang calon penerus Om...," Ujarnya.

Dan akupun hanya bisa tersenyum menanggapi ucapannya itu. Dialah Om Delon adik lelaki papaku satu-satunya. Beliaulah yang paling dekat denganku dibandingkan dengan saudara orang tuaku yang lain.

Beliau sudah seperti teman bagiku, karena kepadanyalah aku selalu membagi semua kisahku bahkan sejak aku sekolah menengah dan mengenal cinta monyet ala-ala remaja. Dan bisa dibilang, aku juga lebih dekat dengannya daripada dengan ayahku sendiri.

"Siapa bilang Devan mau jadi penerus Om...," candaku.

"Loh..loh..loh...kan Devan udah janji sama Om...," ucapnya dengan mimik wajah yang dibuat-buatnya seolah kecewa, pasalnya ia tahu betul kalau aku memang tengah bercanda.

"Kamu itu udah tua, nggak cocok pasang wajah kayak gitu. Emangnya kamu pikir kamu seusia Davin apa ..," ujar Papaku yang kepada adiknya itu.

Sementara aku dan Davin yang mendengar sindiran Papa ke adiknya itupun hanya bisa tertawa melihat interaksi keduanya. Disisi lain mama hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kakak beradik yang jarang akur itu.

🍁🍁🍁

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar