Jakarta 🍂
Aku sudah mendaratkan kakiku
kembali ke tanah air. Usai melanjutkan studiku di salah satu perguruan tinggi
di negeri kangguru, aku kembali ke tanah air. Pasalnya, aku sudah di hire oleh
salah satu perusahaan yang cukup ternama di kota tempat tinggalku, Jakarta.
Perusahaan ini sudah lama
menghireku. Bahkan ketika aku masih berstatus mahasiswa yang tengah menempuh
gelar masterku. Dan akhirnya, aku menyanggupinya ketika aku sudah menyelesaikan
studiku, aku akan bekerja disana.
Kalian mungkin akan penasaran
kenapa begitu mudahnya aku mendapatkan pekerjaan, bahkan ketika aku masih belum
menyelesaikan studiku? Tentu saja itu karena perusahaan yang menghireku adalah
perusahaan pamanku sendiri. Beliau bersikeras hendak menjadikanku karyawannya
atau lebih tepatnya mungkin penerusnya, karena beliau tidak memiliki anak untuk
meneruskan usahanya itu.
Sementara Papaku sendiri
hanya bisa berpasrah dengan keinginan keras pamanku itu. Beliau menyerahkan
semua keputusan di tanganku. Apakah aku akan memilih untuk meneruskan usaha
pamanku? Ataukah usaha Papaku yang bergerak di bidang yang berbeda dengan usaha
pamanku itu.
Dan aku menetapkan pilihanku
kepada usaha pamanku, yakni usaha jasa akuntan publik karena bagiku inilah yang
lebih sesuai dengan diriku. Sementara usaha Papaku yang bergerak di bidang
property kedepannya akan di teruskan oleh adikku yang saat ini juga tengah
menempuh pendidikan sarjananya di salah satu universitas di kota ku ini.
Tampak adikku melambaikan
tangan dari kejauhan, seolah mengisyarati keberadaannya. Aku pun segera
menghampirinya, ternyata ialah yang menjemputku di bandara. Awalnya aku ingin
naik taksi saja ke rumah, tapi mama bersikeras untuk meminta adikku saja yang
menjemputku.
"Udah lama nunggu?"
tanya ku.
"Lumayan Bang, si mama
nih ngomel melulu kalau gue nggak juga berangkat jemput abang," ucapnya.
Dan akupun hanya terkekeh kecil mendengar gerutuannya itu.
Karena bukan hal yang
mengeherankan lagi kalau perkataan Mama sudah seperti titah sang ratu yang
nggak bisa di ganggu gugat. Maklum, karena di rumah memang mamalah satu-satunya
wanita yang harus dengan sabar mengurusi ketiga ksatrianya yakni aku, papa dan
Devin adikku.
Eh, aku lupa mengenalkan
diri. Perkenalkan namaku Devano Ezra Anggara, Putra pasangan Daniel Anggara dan
Delina Mahesty. Aku memiliki satu adik laki-laki yang namanya tak beda jauh
dengan namaku. Devino Erza Anggara.
Singkat cerita, kami pun
akhirnya keluar dari bandara dan bergegas pulang ke rumah. Karena untuk ke tujuh
kalinya sang mama tak henti-hentinya menelpon Devin, yang tentu saja membuat
adikku itu menggerutu tak henti-hentinya sepanjang perjalanan.
Sementara aku, hanya bisa
terkekeh melihatnya. Aku pun menyusuri pemandangan di kanan kiri jalan untuk
menghilangkan rasa bosan selama perjalanan kami, karena bandara dengan rumah
kami cukup memakan waktu.
Sesampainya di rumah mama
langsung memelukku dan memberiku ciuman bertubi-tubi di pipi layaknya balita.
Adikku tentu saja meledek perlakuan mama kepadaku itu. Ia dan mama memang tidak
pernah akur, selalu saja berdebat, semua itu tentu saja karena sifat jail
adikku yang satu itu, yang tak lernah henti-hentinya mengganggu mama.
"Welcome home son,"
ujar Papaku sembari memberi pelukan singkat dan menepuk bahuku. Aku dapat
melihat kebanggaan dan juga kebahagiaan di matanya atas sekembaliku dari
penyelesaian studyku.
Tak jauh dari papa, orang
yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan papaku itu pun melakukan hal yang
sama. Ia bahkan memelukku berkali-kali.
"Selamat datang calon
penerus Om...," Ujarnya.
Dan akupun hanya bisa
tersenyum menanggapi ucapannya itu. Dialah Om Delon adik lelaki papaku
satu-satunya. Beliaulah yang paling dekat denganku dibandingkan dengan saudara
orang tuaku yang lain.
Beliau sudah seperti teman
bagiku, karena kepadanyalah aku selalu membagi semua kisahku bahkan sejak aku
sekolah menengah dan mengenal cinta monyet ala-ala remaja. Dan bisa dibilang,
aku juga lebih dekat dengannya daripada dengan ayahku sendiri.
"Siapa bilang Devan mau
jadi penerus Om...," candaku.
"Loh..loh..loh...kan
Devan udah janji sama Om...," ucapnya dengan mimik wajah yang
dibuat-buatnya seolah kecewa, pasalnya ia tahu betul kalau aku memang tengah
bercanda.
"Kamu itu udah tua,
nggak cocok pasang wajah kayak gitu. Emangnya kamu pikir kamu seusia Davin apa
..," ujar Papaku yang kepada adiknya itu.
Sementara aku dan Davin yang
mendengar sindiran Papa ke adiknya itupun hanya bisa tertawa melihat interaksi
keduanya. Disisi lain mama hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kakak
beradik yang jarang akur itu.
🍁🍁🍁

0 komentar:
Posting Komentar