Acara
makan malam pun berjalan lancar seperti biasa. Usai makan kami selingi dengan
ngobrol seperti biasa. Papa membuka obrolan diantara kami.
"Devan,
kerja mulai kapan Lon?" Tanya Papa pada adiknya.
"Terserah
Devan Kak, kalau Devan masih perlu istirahat no problem...," Ucap Om
santai sembari mencomot tahu crispy yang dibuat Mama.
"Mulai
besok saja Pa, Om...," Ujarku kemudian. Semua mata pun menuju ke arahku
mendengar perkataanku.
"Devan
kan baru pulang. Apa nggak capek. Istirahat dulu saja di rumah Nak," ujar
Mama.
"Nggak
apa-apa Ma, Devan nggak sabar buat belajar," ujarku.
"Tap..tapi
Nak...," Ucapan Mama pun terhenti ketika Papa memberi isyarat dengan
gelengan kepalanya. Yang artinya Papa membiarkan semua keputusan di tanganku
dan melarang Mama mempengaruhiku.
"Devan
beneran nggak apa-apa kok Ma," ucapku mencoba menghilangkan kekhawatiran
di wajah Mama. Mama pun akhirnya menganggukkan kepalanya.
Aku
pun beralih ke arah Om ku yang masih asyik memakan tahu crispy beradu cepat
dengan Davin. Sungguh kekanak-kanakan..!!
"Om,
om beneran harus penuhi janji kalau Devan mau kerja mulai dari bawah
loh...," Ujarku.
"Oke,
tenang. Om akan sudah persiapkan untukmu. Jadi junior auditor dulu nggak
masalah kan?" Tawarnya.
"Nggak
apa-apa, Devan juga mau mencari pengalaman terjun langsung ke lapangan..,"
ujarku.
"Emang
kantormu lagi sibuk apa sekarang Lon?" tanya Papa.
"Lagi
sibuk audit PT "X" ituloh kak," jawab Om Delon.
"Oh,
PT "X" yang direkturnya Pak Fandhy Setyawan itu ya..?"
"Iya,
kakak kenal?" Tanya Om ku.
"Nggak
juga sih, tapi kalau sama anaknya aku kenal. Kemarin ada kerja sama dengan
anaknya...," Jelas Papa.
"Oh,
anaknya si Fahri yang punya bisnis hotel itu kan ya?"
"Iya,"
Om
Delon pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Trus,
job kak Devan ke depan apa Om, nggak mungkin kan langsung terlibat dalam
pengauditan perusahaan besar, om pastinya kirim para senior auditor..,"
tanya Davin.
"Ada
sih job untuk Devan. Devan mah otaknya encer belajar sebulan aja udah pasti
bisa, bahkan dua minggu pun kelar. Jadi, Om berniat buat kasih job ke Devan
audit salah satu perusahaan konstruksi di Surabaya...," Jelas Om Delon.
"Jauh
sekali sih dek, masak anak mbak baru datang kamu minta pergi lagi...,"
Ucap Mama dengan raut muka kecewa.
Sementara
Om yang merasa bersalah memberi isyarat pada Devin harusnya ia tidak menanyakan
hal itu tadi. Karena belum telat menjelaskan rencanaya itu ketika aku baru saja
sampai di tanah air. Jelas saja wajah sedih langsung tercetak di wajah cantik
Mama ku yang seakan tak menua itu.
Beliau
benar-benar masih merindukanku. Dan enggan membiarkanku pergi lagi dalam waktu
dekat.
"Nggak
apa Ma, biar Devan lebih cepat belajarnya. Lapangan akan memberikan pelajaran
yang lebih banyak daripada di kantor...," Jelasku.
"Tap..tapi...Pa..papa
kenapa nggak nolongin mama sih..,"
"Eh,
nolongin apa Ma...?" Tanya papa sembari menggaruk tengkuknya yang tak
gatal.
"Ih..tentang
rencana ituloh Pa. Anaknya Pak Rafael...," Ujar Mama sembari berbisik pada
Papa, namun tentu masih bisa terdengar olehku dan yang lain.
Disaat
inilah aku mencium bau-bau mencurigakan..huft... 😱
🍁🍁🍁

0 komentar:
Posting Komentar