Rabu, 19 Oktober 2022

Pergi Lagi?

 

Acara makan malam pun berjalan lancar seperti biasa. Usai makan kami selingi dengan ngobrol seperti biasa. Papa membuka obrolan diantara kami.

"Devan, kerja mulai kapan Lon?" Tanya Papa pada adiknya.

"Terserah Devan Kak, kalau Devan masih perlu istirahat no problem...," Ucap Om santai sembari mencomot tahu crispy yang dibuat Mama.

"Mulai besok saja Pa, Om...," Ujarku kemudian. Semua mata pun menuju ke arahku mendengar perkataanku.

"Devan kan baru pulang. Apa nggak capek. Istirahat dulu saja di rumah Nak," ujar Mama.

"Nggak apa-apa Ma, Devan nggak sabar buat belajar," ujarku.

"Tap..tapi Nak...," Ucapan Mama pun terhenti ketika Papa memberi isyarat dengan gelengan kepalanya. Yang artinya Papa membiarkan semua keputusan di tanganku dan melarang Mama mempengaruhiku.

"Devan beneran nggak apa-apa kok Ma," ucapku mencoba menghilangkan kekhawatiran di wajah Mama. Mama pun akhirnya menganggukkan kepalanya.

Aku pun beralih ke arah Om ku yang masih asyik memakan tahu crispy beradu cepat dengan Davin. Sungguh kekanak-kanakan..!!

"Om, om beneran harus penuhi janji kalau Devan mau kerja mulai dari bawah  loh...," Ujarku.

"Oke, tenang. Om akan sudah persiapkan untukmu. Jadi junior auditor dulu nggak masalah kan?" Tawarnya.

"Nggak apa-apa, Devan juga mau mencari pengalaman terjun langsung ke lapangan..," ujarku.

"Emang kantormu lagi sibuk apa sekarang Lon?" tanya Papa.

"Lagi sibuk audit PT "X" ituloh kak," jawab Om Delon.

"Oh, PT "X" yang direkturnya Pak Fandhy Setyawan itu ya..?"

"Iya, kakak kenal?" Tanya Om ku.

"Nggak juga sih, tapi kalau sama anaknya aku kenal. Kemarin ada kerja sama dengan anaknya...," Jelas Papa.

"Oh, anaknya si Fahri yang punya bisnis hotel itu kan ya?"

"Iya,"

Om Delon pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Trus, job kak Devan ke depan apa Om, nggak mungkin kan langsung terlibat dalam pengauditan perusahaan besar, om pastinya kirim para senior auditor..," tanya Davin.

"Ada sih job untuk Devan. Devan mah otaknya encer belajar sebulan aja udah pasti bisa, bahkan dua minggu pun kelar. Jadi, Om berniat buat kasih job ke Devan audit salah satu perusahaan konstruksi di Surabaya...," Jelas Om Delon.

"Jauh sekali sih dek, masak anak mbak baru datang kamu minta pergi lagi...," Ucap Mama dengan raut muka kecewa.

Sementara Om yang merasa bersalah memberi isyarat pada Devin harusnya ia tidak menanyakan hal itu tadi. Karena belum telat menjelaskan rencanaya itu ketika aku baru saja sampai di tanah air. Jelas saja wajah sedih langsung tercetak di wajah cantik Mama ku yang seakan tak menua itu.

Beliau benar-benar masih merindukanku. Dan enggan membiarkanku pergi lagi dalam waktu dekat.

"Nggak apa Ma, biar Devan lebih cepat belajarnya. Lapangan akan memberikan pelajaran yang lebih banyak daripada di kantor...," Jelasku.

"Tap..tapi...Pa..papa kenapa nggak nolongin mama sih..,"

"Eh, nolongin apa Ma...?" Tanya papa sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ih..tentang rencana ituloh Pa. Anaknya Pak Rafael...," Ujar Mama sembari berbisik pada Papa, namun tentu masih bisa terdengar olehku dan yang lain.

Disaat inilah aku mencium bau-bau mencurigakan..huft... 😱

🍁🍁🍁

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar