Aku
bersiap ke kantor setelah menghabiskan sarapan bersama keluarga. Aku
bersemangat sekali untuk berangkat pagi-pagi. Semalam Om Delon mengusulkan
untuk berangkat bersama ke tempat kerja, tapi aku menolak. Aku ingin berangkat
sendiri dan benar-benar merasakan sensasi menjadi karyawan biasa seperti yang
lainnya.
"Apa
kamu nggak kepagian Van...?" Tanya Mama ketika aku mencium kedua tangannya
setelah Papa yang pertama.
"Nggak
Ma, karyawan normal lainnya juga berangkat jam segini kok...," Ujarku.
"Ini
kepagian Nak, Om Delon kan nggak masalah kalau kamu berangkat jam delapan
nak...," Jelas Mama.
"Nggak
Ma, karyawan magang memang harusnya berangkat pagi-pagi begini. Lagipula, Devan
sedang semangat sekali buat nimba ilmu di kantornya Om Delon...," Ucapku.
"Iya
Ma, Devan benar. Berangkat pagi-pagi kan bagus Ma buat cari rezeki biar gak di
patok ayam...," Ujar Papa.
"Kalau
gitu Papa juga berangkat sana biar rezeki nggak di patok ayam...," Seru
Mama.
"Papa
mah beda Ma, ayamnya nggak bisa matok lagi udah papa habisin duluan
tuh..," ucap papa sembari menunjuk sisa tulang ayam di piring sarapannya.
"Ish...alesan...,"
Ujar Mama. Aku dan papa pun hanya bisa terkekeh melihat raut wajah kesal mama.
Aku
pun memberi isyarat kepada papa bahwa aku hendak pergi sekarang. Papa pun
mengiyakan dengan menganggukkan kepala.
Di
halaman sudah terpakir rapi mobil audi hitam. Aku sudah bilang sebelumnya bahwa
aku milih pakek motor saja, tapi Mama tidak mengizinkanku terlalu bahaya
katanya. Mengingat bahwa aku dulu pernah jatuh dari motor dan patah tulang
hingga harus di rawat sebulan lebih di RS.
Mencoba
untuk meredam ketakutan Mama akhirnya akupun mengiyakan permintaan Mama. Tak
masalah pakai mobil aku berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet juga toh.
Bismillah semoga semua lancar hari ini.
🍁
Pekerjaan
pertama hari ini cukup lancar. Pengarahan Om Reyhan asisten Om Delon di kantor
sangat mudah di pahami. Aku bisa cepat menguasai apa-apa saja yang diajarkan
olehnya.
Semangatku
terpacu, untuk bisa berangkat ke Surabaya bersama rekan satu tim ku yang lain.
Entah semangat ini murni karena aku sudah tidak sabar ingin terjun langsung ke
lapangan, atau karena "dia". Ya, dia seseorang yang menjadi topik
pembicaraan antara aku dan Om Delon semalam.
Benar
kata Om Delon, aku tidak akan pernah bisa merasa tenang kalau aku belum
benar-benar mengetahui keadaannya sekarang. Orang bilang, memang akan lebih
baik tidak mengungkit masa lalu, agar diri kita bisa segera bangkit dan
kemudian fokus pada masa depan. Tapi, hal tersebut tentu tidak bisa berlaku
sama untuk semua orang. Salah satunya adalah aku.
Sudah
lima tahun lebih aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Dia seolah menghilang
bagai buih. Atau mungkin aku yang terlalu acuh dan emggan untuk mencari?
Ya,
semua bermula karena diriku sendiri. Aku akui bahwa aku memang egois. Aku lebih
mementingkan impian dan karirku, hingga aku tak pernah mempedulikannya. Dan
tanpa sadar perlahan dia mulai menghilang. Tak hanya dari pandangan, bahkan
dari dunia maya pun ia pergi, seolah menutup diri dari semua yang berpotensi
pernah menyakiti, termasuk aku salah satunya. Seseorang yang mungkin terlalu
banyak menorehkan luka dihatinya.
Kini
hanya ada satu tekad dalam diriku, aku harus bertemu dengannya. Menyelesaikan
semua cerita lama dan juga meminta ma'afnya, untuk ketidakpedulianku, untuk
keegoisanku dan untuk semua alasan dari luruhnya air matanya karenaku.
🍁🍁🍁


