Rabu, 19 Oktober 2022

Hari Pertama Kerja

 

Aku bersiap ke kantor setelah menghabiskan sarapan bersama keluarga. Aku bersemangat sekali untuk berangkat pagi-pagi. Semalam Om Delon mengusulkan untuk berangkat bersama ke tempat kerja, tapi aku menolak. Aku ingin berangkat sendiri dan benar-benar merasakan sensasi menjadi karyawan biasa seperti yang lainnya.

"Apa kamu nggak kepagian Van...?" Tanya Mama ketika aku mencium kedua tangannya setelah Papa yang pertama.

"Nggak Ma, karyawan normal lainnya juga berangkat jam segini kok...," Ujarku.

"Ini kepagian Nak, Om Delon kan nggak masalah kalau kamu berangkat jam delapan nak...," Jelas Mama.

"Nggak Ma, karyawan magang memang harusnya berangkat pagi-pagi begini. Lagipula, Devan sedang semangat sekali buat nimba ilmu di kantornya Om Delon...," Ucapku.

"Iya Ma, Devan benar. Berangkat pagi-pagi kan bagus Ma buat cari rezeki biar gak di patok ayam...," Ujar Papa.

"Kalau gitu Papa juga berangkat sana biar rezeki nggak di patok ayam...," Seru Mama.

"Papa mah beda Ma, ayamnya nggak bisa matok lagi udah papa habisin duluan tuh..," ucap papa sembari menunjuk sisa tulang ayam di piring sarapannya.

"Ish...alesan...," Ujar Mama. Aku dan papa pun hanya bisa terkekeh melihat raut wajah kesal mama.

Aku pun memberi isyarat kepada papa bahwa aku hendak pergi sekarang. Papa pun mengiyakan dengan menganggukkan kepala.

Di halaman sudah terpakir rapi mobil audi hitam. Aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku milih pakek motor saja, tapi Mama tidak mengizinkanku terlalu bahaya katanya. Mengingat bahwa aku dulu pernah jatuh dari motor dan patah tulang hingga harus di rawat sebulan lebih di RS.

Mencoba untuk meredam ketakutan Mama akhirnya akupun mengiyakan permintaan Mama. Tak masalah pakai mobil aku berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet juga toh. Bismillah semoga semua lancar hari ini.

🍁

Pekerjaan pertama hari ini cukup lancar. Pengarahan Om Reyhan asisten Om Delon di kantor sangat mudah di pahami. Aku bisa cepat menguasai apa-apa saja yang diajarkan olehnya.

Semangatku terpacu, untuk bisa berangkat ke Surabaya bersama rekan satu tim ku yang lain. Entah semangat ini murni karena aku sudah tidak sabar ingin terjun langsung ke lapangan, atau karena "dia". Ya, dia seseorang yang menjadi topik pembicaraan antara aku dan Om Delon semalam.

Benar kata Om Delon, aku tidak akan pernah bisa merasa tenang kalau aku belum benar-benar mengetahui keadaannya sekarang. Orang bilang, memang akan lebih baik tidak mengungkit masa lalu, agar diri kita bisa segera bangkit dan kemudian fokus pada masa depan. Tapi, hal tersebut tentu tidak bisa berlaku sama untuk semua orang. Salah satunya adalah aku.

Sudah lima tahun lebih aku tak pernah bertemu dengannya lagi. Dia seolah menghilang bagai buih. Atau mungkin aku yang terlalu acuh dan emggan untuk mencari?

Ya, semua bermula karena diriku sendiri. Aku akui bahwa aku memang egois. Aku lebih mementingkan impian dan karirku, hingga aku tak pernah mempedulikannya. Dan tanpa sadar perlahan dia mulai menghilang. Tak hanya dari pandangan, bahkan dari dunia maya pun ia pergi, seolah menutup diri dari semua yang berpotensi pernah menyakiti, termasuk aku salah satunya. Seseorang yang mungkin terlalu banyak menorehkan luka dihatinya.

Kini hanya ada satu tekad dalam diriku, aku harus bertemu dengannya. Menyelesaikan semua cerita lama dan juga meminta ma'afnya, untuk ketidakpedulianku, untuk keegoisanku dan untuk semua alasan dari luruhnya air matanya karenaku.

🍁🍁🍁

 

 

 

 

Man Talk

 

Aku tengah duduk di gazebo bersama dengan Om Delon. Biasa kami sering menghabiskan waktu berdua seusai makan malam. Dengan ditemani kopi yang disediakan Bi Asih ART di rumah kami, aku dan Om Delon akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk berbincang-bincang.

"Ada alasan kenapa Om meminta aku melakukan audit ke Surabaya?" Tanyaku kemudian.

"Kamu menyadarinya?" Om Delon balik bertanya.

Aku pun menganggukkan kepalaku. "Aku cukup tahu Om, sama seperti Om tahu semua tentangku...," Ujarku kemudian.

Om Delon pun tersenyum kecil mendengar perkataanku. Kami memang cukup dekat, dan banyak hari kulalui bersama Om Ku ini sewaktu aku masih kecil. Jadi, aku cukup bisa menebak apa yang tengah dipikirkannya.

"Siapa tahu kamu bisa bertemu dia lagi...," Ujar Om Delon.

Aku tahu siapa "dia" yang dimaksud Om Delon dalam pembicaraan kami. Tentu "dia" disini adalah seseorang yang pernah berada di masa laluku. Aku menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya berucap.

"Mustahil Om, sudah lima tahun berlalu. Mungkin saja dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya...," Ucapku dengan nada pasrah.

"Tidak ada yang mustahil di dunia ini Van, kamu tidak akan pernah bisa merasa lega sebelum memastikannya sendiri bukan? Kamu selamanya tidak akan pernah merasa lega karena kamu hidup dengan praduga-praduga kamu yang belum tentu bahwa itu memang kebenarannya...," Jelas Om Devan.

"Tapi, Om.. Dia tidak mungkin masih sendiri sekarang. Dia juga tidak mungkin masih menunggu Devan bukan? Devan bukannya tidak tahu bahwa dulu dia menyimpan perasaan untuk Devan, tapi mungkin kini hatinya sudah berbalik. Bukankah hati mudah berbolak-balik Om...," Ujarku.

"Kamu benar, hati manusia memang mudah berbolak balik. Tapi, kamu juga tidak sepenuhnya benar, buktinya seseorang di samping kamu ini. Kamu juga tahu bukan, kalau Tante Delia udah ninggalin Om dalam cukup lama, tapi sampai sekarang pun perasaan Om masih tetap sama untuk tante mu itu...," Jelas Om Delon.

Aku pun menganggukkan kepalaku seraya mengiyakan bahwa memang benar adanya bahwa sampai detik ini pun Om Delon masih mencintai Tante Delia. Buktinya ia bahkan belum menikah lagi sampai sekarang.

"Bukankah kamu sendiri yang bertanya kepada Om, kenapa kamu masih merasa ada yang kurang bahkan setelah kamu bisa mencapai semua impian kamu?" Tanya Om Delon yang lebih pada meminta penegasan kepadaku atas pernyataanya. Aku mengangguk mengiyakan.

"Kamu merasa seperti itu barangkali karena ada yang belum selesai antara kamu dengan dia Van. Mungkin kisah kalian sudah berakhir tapi kamu perlu untuk memastikannya sendiri apa benar seperti itu kenyataannya. Tentu bukan karena kamu memaruh harap lebih, tapi lebih kepada agar kamu bisa merasa lega. Jika ia memang sudah bahagia dengan pilihan hatinya saat ini maka kamu akan bisa lega dan bisa ikhlas melepaskannya. Dan jika memang kenyataannya ia masih menjaga dirinya untukmu, kamu bisa menentukan langkah apa yang harus kamu ambil kedepannya...," Jelas Om Devan.

Aku lagi-lagi hanya bisa menganggukkan kepalaku. Semua pernyataannya benar adanya dan aku tak bisa menyangkal bahwa pernyataannya itu sama seperti pikiran-pikiran yang berkecamuk di kepalaku.

"Apa Devan bisa melewati ini Om...?" Tanyaku pesimis.

"Bukankah kamu sudah melewati semua itu selama lima tahun lamanya. Harusnya, bagaimanapun hasil yang akan kamu temui nanti, kamu sudah bisa menerima dengan penerimaan yang baik..."

"Oke Om, Devan akan berusaha mencari dia juga disana. Apapun yang terjadi nanti, meski pada akhirnya kami memang tidak bisa bersama, Devan tetap bisa menjaga pertemanan diantara kami kan Om...,"

"Ya, tentu. Jangan putus silaturahmi hanya karena masalah yang terjadi di masa lalu. Akan lebih baik kalau hubungan kalian membaik meski tidak bisa kembali seperti dulu. Agar kalian berdua bisa lega dan ikhlas hingga langkah kalian kedepannya tidak akan berat dan membebani...,"

Aku menganggukkan kepala. "Makasih kesempatannya Om. Tapi, Om sembunyikan semua ibi dari Mama kan? Mama belum tahu soal "dia" kan...?" Tanyaku kemudian.

"Tentu saja belom, bisa heboh mamamu kalau tahu. Dia pasti akan nyuruh kamu pergi malam ini juga buat nyari "dia"," Om Delon sembari tersenyum kecil.

"Iya, om benar. Devan bukannya bermaksud menyembunyikan semua dari Mama. Tapi, karena semuanya belum pasti makanya Devan tidak memberi tahu. Takut Mama terlalu berharap dan kecewa berat nantinya ketika harapannya tak terpenuhi...," Jelasku.

Om Delon menganggukkan kepala. "Om ngerti....," Ujarnya kemudian.

🍁🍁🍁

 

 

 

 

 

 

Rencana Mama

 

Papa tetap diam dan enggan membantu Mama. Dia hanya berdehem dan terlihat kikuk sebelum menyerahkan semua pada Mama.

"Ekhem...Mama aja yang bilang. Kan Mama yang punya rencana itu...," Ujar Papa.

"Eh, tapi kan papa setuju-setuju aja dengan usul Mama...," Ucap Mama.

"Ya, kalau papa nggak setuju nanti mama ngambek, trus papa disuruh tidur di luar ..," gerutu Papa.

"Dasar suami takut istri..," celetuk Om Delon. Papa memberi isyarat pelotota mata pada Om Delon setelah mendengar celetukan itu Sementara aku dan Davin hanya terkekeh sembari memperhatikan interaksi kedua orang tua kami.

"Sebenarnya Mama mau bilang apa?" Tanyaku kemudian, mencoba memecah perseteruan diantara mereka.

"Eh, gini Devan, Mama berencana mengenalkan kamu dengan Nadya, anak Tante Ratih dan Om Rafael teman papamu," ucap Mama kemudian, memberanikan diri karena beliau sesungguhnya tahu kalau aku paling enggan untuk membicarakan hal yang seperti ini.

"Terus....," Pancingku kemudian.

"Terus ya gitu, siapa tahu Devan mau ketemuan sama Nadya. Eh, tapi kalau Devan nggak mau nggak apa-apa kok. Mama akan jelasin sama tante Ratih. Toh, mama juga sering lakuin itu sama teman-teman Mama yang lain yang ingin jodohin anaknya sama kamu kan..," ucap Mama.

Aku menghela napas sebelum memberi penjelasan pada Mama.

"Ma, bukannya Devan nggak tahu apa yang Mama tahu. Tapi, Mama tahu kan kalau Devan belum siap. Kalau Devan sudah siap, Devan janji nggak perlu Mama yang cariin, Devan bakal bawa sendiri calon menantu Mama...," Ujarku.

"Iya, tapi kapan...? Ini sudah ke tujuh kalinya Mama jodohin kamu. Tapi, ketemu aja kamu nggak mau...," Ucap Mama dengan raut wajah cemberut.

"Devan nggak mau ngasih harapan sama mereka Ma, makanya Devan nggak mau nemuin mereka...,"

"Tapi kan nggak apa-apa ketemu doang Van, kalau kamu nggak cocok ya sudah..,"

"Ma...," Ucapku lirih dan kalau sudah seperti itu Mama tahu kalau aku tak ingin di bantah.

"Iya, iya Mama tahu, Mama nggak akan maksa kamu. Huft...padahal Mama kan cuman mau cepet nimang cucu kayak temen-temen Mama yang lain.

"Kalau Mama pingin cepet nimang cucu suruh aja noh si Davin buat nikahin Clarissa...," Cetusku meminta Mama buat nikahin Davino lebih dulu dengan Clarissa anak tetangga sebelah.

"Ih...enak aja aku dibawa-bawa mana sama Clarissa lagi, ogah cewek petakilan gitu...," Ujar Davino.

"Hush...nggak boleh gitu Davin, mama nggak pernah ngajarin kamu kayak gitu...," Ujar Mama.

"Tahu, jangan terlalu benci Vin, jatuh cinta tau rasa loe...," Ujarku yang kemudian di ikuti gelak tawa papa sama Om Delon. Sementara Davino yamg mendengar ledekanku hanya bisa merengut kesal.

"Huss...sudah..sudah," lerai Mama akhirnya.

"Mama suruh Om Delon nikah lagi aja noh, biar Mama bisa segera nimang cucu...," Celetuk Davino kemudian.

Semua pun hening kemudian. Bukannya tidak pernah hal seperti ini terjadi tapi tiap membahas tentang pernikahan dengan Om Delon pasti akan seperti ini.

Om Delon adalah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal saat usia pernikahan mereka sudah menginjak 3 tahun. Tante Delia, almarhum istri Om Devan meninggal karena kanker. Dan lima tahun setelah meninggalnya Tante Delia, Om Delon tidak juga mencari penggantinya meskipun Mama dan Papa seringkali memberikan usulan tersebut.

Mama pun kemudian mencairkan suasana agar tidak menjadi hening. Devino yang tampak merasa bersalah pada Om Delon pun memberi isyarat tatapan mata sebagai tanda permintaan ma'af atas kesalahan dalam celetukannya tadi. Om Delon pun menggelengkan kepala sebagai tanda tidak apa-apa. Ia pun tersenyum kemudian diikuti kami semua.

🍁🍁🍁

 

 

 

 

 

Pergi Lagi?

 

Acara makan malam pun berjalan lancar seperti biasa. Usai makan kami selingi dengan ngobrol seperti biasa. Papa membuka obrolan diantara kami.

"Devan, kerja mulai kapan Lon?" Tanya Papa pada adiknya.

"Terserah Devan Kak, kalau Devan masih perlu istirahat no problem...," Ucap Om santai sembari mencomot tahu crispy yang dibuat Mama.

"Mulai besok saja Pa, Om...," Ujarku kemudian. Semua mata pun menuju ke arahku mendengar perkataanku.

"Devan kan baru pulang. Apa nggak capek. Istirahat dulu saja di rumah Nak," ujar Mama.

"Nggak apa-apa Ma, Devan nggak sabar buat belajar," ujarku.

"Tap..tapi Nak...," Ucapan Mama pun terhenti ketika Papa memberi isyarat dengan gelengan kepalanya. Yang artinya Papa membiarkan semua keputusan di tanganku dan melarang Mama mempengaruhiku.

"Devan beneran nggak apa-apa kok Ma," ucapku mencoba menghilangkan kekhawatiran di wajah Mama. Mama pun akhirnya menganggukkan kepalanya.

Aku pun beralih ke arah Om ku yang masih asyik memakan tahu crispy beradu cepat dengan Davin. Sungguh kekanak-kanakan..!!

"Om, om beneran harus penuhi janji kalau Devan mau kerja mulai dari bawah  loh...," Ujarku.

"Oke, tenang. Om akan sudah persiapkan untukmu. Jadi junior auditor dulu nggak masalah kan?" Tawarnya.

"Nggak apa-apa, Devan juga mau mencari pengalaman terjun langsung ke lapangan..," ujarku.

"Emang kantormu lagi sibuk apa sekarang Lon?" tanya Papa.

"Lagi sibuk audit PT "X" ituloh kak," jawab Om Delon.

"Oh, PT "X" yang direkturnya Pak Fandhy Setyawan itu ya..?"

"Iya, kakak kenal?" Tanya Om ku.

"Nggak juga sih, tapi kalau sama anaknya aku kenal. Kemarin ada kerja sama dengan anaknya...," Jelas Papa.

"Oh, anaknya si Fahri yang punya bisnis hotel itu kan ya?"

"Iya,"

Om Delon pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Trus, job kak Devan ke depan apa Om, nggak mungkin kan langsung terlibat dalam pengauditan perusahaan besar, om pastinya kirim para senior auditor..," tanya Davin.

"Ada sih job untuk Devan. Devan mah otaknya encer belajar sebulan aja udah pasti bisa, bahkan dua minggu pun kelar. Jadi, Om berniat buat kasih job ke Devan audit salah satu perusahaan konstruksi di Surabaya...," Jelas Om Delon.

"Jauh sekali sih dek, masak anak mbak baru datang kamu minta pergi lagi...," Ucap Mama dengan raut muka kecewa.

Sementara Om yang merasa bersalah memberi isyarat pada Devin harusnya ia tidak menanyakan hal itu tadi. Karena belum telat menjelaskan rencanaya itu ketika aku baru saja sampai di tanah air. Jelas saja wajah sedih langsung tercetak di wajah cantik Mama ku yang seakan tak menua itu.

Beliau benar-benar masih merindukanku. Dan enggan membiarkanku pergi lagi dalam waktu dekat.

"Nggak apa Ma, biar Devan lebih cepat belajarnya. Lapangan akan memberikan pelajaran yang lebih banyak daripada di kantor...," Jelasku.

"Tap..tapi...Pa..papa kenapa nggak nolongin mama sih..,"

"Eh, nolongin apa Ma...?" Tanya papa sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ih..tentang rencana ituloh Pa. Anaknya Pak Rafael...," Ujar Mama sembari berbisik pada Papa, namun tentu masih bisa terdengar olehku dan yang lain.

Disaat inilah aku mencium bau-bau mencurigakan..huft... 😱

🍁🍁🍁

 

 

 

 

 

 

 

 

Prolog

 

Jakarta 🍂

Aku sudah mendaratkan kakiku kembali ke tanah air. Usai melanjutkan studiku di salah satu perguruan tinggi di negeri kangguru, aku kembali ke tanah air. Pasalnya, aku sudah di hire oleh salah satu perusahaan yang cukup ternama di kota tempat tinggalku, Jakarta.

Perusahaan ini sudah lama menghireku. Bahkan ketika aku masih berstatus mahasiswa yang tengah menempuh gelar masterku. Dan akhirnya, aku menyanggupinya ketika aku sudah menyelesaikan studiku, aku akan bekerja disana.

Kalian mungkin akan penasaran kenapa begitu mudahnya aku mendapatkan pekerjaan, bahkan ketika aku masih belum menyelesaikan studiku? Tentu saja itu karena perusahaan yang menghireku adalah perusahaan pamanku sendiri. Beliau bersikeras hendak menjadikanku karyawannya atau lebih tepatnya mungkin penerusnya, karena beliau tidak memiliki anak untuk meneruskan usahanya itu.

Sementara Papaku sendiri hanya bisa berpasrah dengan keinginan keras pamanku itu. Beliau menyerahkan semua keputusan di tanganku. Apakah aku akan memilih untuk meneruskan usaha pamanku? Ataukah usaha Papaku yang bergerak di bidang yang berbeda dengan usaha pamanku itu.

Dan aku menetapkan pilihanku kepada usaha pamanku, yakni usaha jasa akuntan publik karena bagiku inilah yang lebih sesuai dengan diriku. Sementara usaha Papaku yang bergerak di bidang property kedepannya akan di teruskan oleh adikku yang saat ini juga tengah menempuh pendidikan sarjananya di salah satu universitas di kota ku ini.

Tampak adikku melambaikan tangan dari kejauhan, seolah mengisyarati keberadaannya. Aku pun segera menghampirinya, ternyata ialah yang menjemputku di bandara. Awalnya aku ingin naik taksi saja ke rumah, tapi mama bersikeras untuk meminta adikku saja yang menjemputku.

"Udah lama nunggu?" tanya ku.

"Lumayan Bang, si mama nih ngomel melulu kalau gue nggak juga berangkat jemput abang," ucapnya. Dan akupun hanya terkekeh kecil mendengar gerutuannya itu.

Karena bukan hal yang mengeherankan lagi kalau perkataan Mama sudah seperti titah sang ratu yang nggak bisa di ganggu gugat. Maklum, karena di rumah memang mamalah satu-satunya wanita yang harus dengan sabar mengurusi ketiga ksatrianya yakni aku, papa dan Devin adikku.

Eh, aku lupa mengenalkan diri. Perkenalkan namaku Devano Ezra Anggara, Putra pasangan Daniel Anggara dan Delina Mahesty. Aku memiliki satu adik laki-laki yang namanya tak beda jauh dengan namaku. Devino Erza Anggara.

Singkat cerita, kami pun akhirnya keluar dari bandara dan bergegas pulang ke rumah. Karena untuk ke tujuh kalinya sang mama tak henti-hentinya menelpon Devin, yang tentu saja membuat adikku itu menggerutu tak henti-hentinya sepanjang perjalanan.

Sementara aku, hanya bisa terkekeh melihatnya. Aku pun menyusuri pemandangan di kanan kiri jalan untuk menghilangkan rasa bosan selama perjalanan kami, karena bandara dengan rumah kami cukup memakan waktu.

Sesampainya di rumah mama langsung memelukku dan memberiku ciuman bertubi-tubi di pipi layaknya balita. Adikku tentu saja meledek perlakuan mama kepadaku itu. Ia dan mama memang tidak pernah akur, selalu saja berdebat, semua itu tentu saja karena sifat jail adikku yang satu itu, yang tak lernah henti-hentinya mengganggu mama.

"Welcome home son," ujar Papaku sembari memberi pelukan singkat dan menepuk bahuku. Aku dapat melihat kebanggaan dan juga kebahagiaan di matanya atas sekembaliku dari penyelesaian studyku.

Tak jauh dari papa, orang yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan papaku itu pun melakukan hal yang sama. Ia bahkan memelukku berkali-kali.

"Selamat datang calon penerus Om...," Ujarnya.

Dan akupun hanya bisa tersenyum menanggapi ucapannya itu. Dialah Om Delon adik lelaki papaku satu-satunya. Beliaulah yang paling dekat denganku dibandingkan dengan saudara orang tuaku yang lain.

Beliau sudah seperti teman bagiku, karena kepadanyalah aku selalu membagi semua kisahku bahkan sejak aku sekolah menengah dan mengenal cinta monyet ala-ala remaja. Dan bisa dibilang, aku juga lebih dekat dengannya daripada dengan ayahku sendiri.

"Siapa bilang Devan mau jadi penerus Om...," candaku.

"Loh..loh..loh...kan Devan udah janji sama Om...," ucapnya dengan mimik wajah yang dibuat-buatnya seolah kecewa, pasalnya ia tahu betul kalau aku memang tengah bercanda.

"Kamu itu udah tua, nggak cocok pasang wajah kayak gitu. Emangnya kamu pikir kamu seusia Davin apa ..," ujar Papaku yang kepada adiknya itu.

Sementara aku dan Davin yang mendengar sindiran Papa ke adiknya itupun hanya bisa tertawa melihat interaksi keduanya. Disisi lain mama hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kakak beradik yang jarang akur itu.

🍁🍁🍁

 

 

 

Complete Me?

 


Thank You